Meredam kemarahan
Sang ustadzah terus mengawasi tingkah laku dua muridnya yang sedang bertengkar di depan kelas sana. Permasalahannya sepele. Si A tak diijinkan ikut bermain oleh si B. Ternyata si A marah dan menendang B. Memang kedua anak ini selalu suka ‘berinteraksi’ bersama, dan si ustadzah hafal betapa keras watak mereka berdua. Jadi tak bisa dibiarkan hal itu jika si ustadzah ingin kedua muridnya terluka karena jotos-jotosan.
“Kakak, ustadzah tadi mengamati lo, bagaimana perkelahian ini terjadi”
Kontan kedua kubu menyampaikan pembelaannya.
“Si A us”, “si B, us..”
“Oke kakak B, coba kakak bersabar kali ini. Berusahalah untuk diam. Temanmu itu lagi marah. Kemarahan itu harus kita balas dengan apa kak?”
Si B dengan mulut mengerucut, menjawab “Kebaikan.” Dan setelahnya si B diam seribu bahasa, tak mau meneruskan perkelahian.
Si A yang tak diladeni ternyata malah membabi buta. Bukan si A memang sasarannya. Tapi meja di depannya! (Untungnya dari triplex…)
Pusing tu si ustadzah… Strategi harus diubah… Si A yang berdiri bersandar tembok itu memang terlihat amat menahan kemarahan pada B yang sekarang duduk di depannya.
Sambil mengelus dada si A, “Nak, tahu ndak kalo,kita sedang marah, kita sedang dikuasai setan lo. Masak kakak mau dikalahin setan? Kalo ustadzah sih ndak mau. Kakak boleh marah kok kalo kakak disakiti. Tapi marah juga harus dibatasi dan bahkan dihilangkan. Salah satu caranya, kalo orang yang marah itu berdiri, maka disuruh duduk. Tapi kalo masih marah, kita suruh dia berwudhu.”
Ah, ternyata kata-kata si ustadzah tak mempan bagi si A. Si A tetap berdiri diam, meski tak lagi menyerang.
Namun, tebakan ustadzah salah beberapa detik kemudian.
Si A tampak berjalan menuju si B. Baik si B maupun ustadzah bersiap.
Eh ternyata si A jalan terus…
Oh, mungkin dia mau duduk…
Eh ternyata dia jalan terus..
Si ustadzah akhirnya pusing melihat si A yang keluar kelas, meninggalkan masalah tanpa penyelesaian.
Tapi tunggu dulu. Lalu apa yang dilakukan si B di luar?
Ternyata dia mengambil air wudhu dan menghampiri ustadzahnya sambil berkata “Aku mau sholat dhuha dulu, us.”
Kontan si ustadzah berkata, “Ustadzah bangga sama kamu, kapten!”
Minggu, 21 Juni 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar