Dalam perjalanan singkat turun dari masjid, Ustadzah Nunung membagi cerita dari buku yang baru saja dibacanya. Beginilah kiranya ceritanya.
Di sebuah dapur, terlihat seorang wanita karier yang menyempatkan diri untuk mencuci piring di sela-sela kesibukannya. Saat dia mematikan kran, dia mendengar suara cicak.
Untuk membunuh rasa penasarannya, dia menengok ada apa dengan cicak yang ada di sekitar jendela di belakangnya. Ternyata si cicak terjepit di sela tombol jendela. Jika yang terjepit adalah ekornya, itu tak jadi masalah bagi cicak. Tapi kali ini yang terjepit adalah badannya.
Si wanita karier tadi tak punya waktu lebih untuk sekedar membuka jendela dapurnya, yang memang jarang dibuka. Dan lupalah dia dengan urusan sepele macam menolong hewan yang tak berdaya.
10 tahun kira-kira dari hari dimana dia menemukan cicak yang terjepit, si wanita karier tadi sekali lagi menyempatkan diri sibuk di dapur. Namun sama juga, dia hanya punya waktu beberapa menit lepas dari beban kerjanya yang menumpuk.
Ternyata sekali lagi setelah 10 tahun, dia mendengar suara ‘ck..ck..ck..’ Setelah dilihat, dia melihat cicak dengan posisi yang sama dengan 10 tahun yang lalu. Dia menengok lebih lama. Cicak itu adalah cicak yang dulu. Kali ini rasa penasaran mengalahkan belenggu pekerjaannya. Kok bisa ya dalam waktu 10 tahun cicak itu bisa bertahan hidup.
Selang beberapa waktu, ada beberapa cicak lain yang datang. Dan si wanita tadi terperanjat saat mereka memberikan makan pada cicak yang terjepit. Tak hanya satu cicak yang menyuapkan makan. Tapi semua secara bergantian.
* **
Hikmah yang paling terlihat dari perilaku sekumpulan cicak adalah bagaimana kita harus menolong teman, seperti apapun caranya. Tak putus asa dalam berbuat baik pada siapa saja. Karena sekecil apapun pertolongan kita, terkadang sangat dibutuhkan
Ustadz Tholib menambahkan bahwa hikmah cerita di atas adalah bagaimana Alloh itu memberikan jatah rejeki pada semua makhluk. Jadi, meski lama datangnya atau menderita sebelumnya pasti janji itu datang.
Beda denganku. Ketika selesai bertasbih di penghujung cerita, aku tertohok. Aku serasa seperti si wanita karier yang sok sibuk sampai-sampai untuk mengerjakan hal kecil seperti membuka jendela saja tak mau. Untung saja si cicak ndak mati.
Kemudian aku teringat ketika kemarin ibu meminta tolong mengirimkan kiriman ke rumah temannya sembari berangkat ke sekolah. Ingin sekali menunjukkan baktiku. Tapi, keharusan datang tepat waktu membuatku menyampaikan keberatan. Dan aku langsung saja berangkat, meninggalkan wanita tersayangku itu dengan segala perasaan yang aku tak mau tahu.
Menolak menolong karena alasan terbelit kesibukan tak hanya terjadi sekali. Sudah sering aku ketika orang tua, saudara, teman, terpaksa membatalkan pemberian ladang amal. Seolah aku memaksa mereka untuk memaklumi keadaanku.
Lalu, berapa kali aku mengecewakan orang yang menggantungkan pertolonganku? Seandainya aku mau mengalah dengan membalik pemikiran. Bagaimana aku dalam waktu bersamaan, juga membereskan urusan orang lain. Bagaimana aku memaklumi keadaan mereka.. Bagaimana aku mengatur kepentinganku agar tergantikan dengan kepentingan orang lain. Bagaimana aku bisa memasrahkan segala urusanku pada si pengatur hidup..
Ya, aku kemudian teringat perkataan salah seorang wali murid. Waktu itu beliau yang merupakan kepala sebuah TK, menceritakan bagaimana temannya mengingatkan untuk lebih konsen dalam menyiapkan penerimaan siswa baru di sekolahnya sendiri, bukan sekolah orang lain. Dengan tegas beliau menanggapi, “Biarkan saya mengurusi urusan orang lain dulu. Urusan saya biar Alloh yang menyelesaikan.
At the first glance, it sounds impossible. Dengan meninggalkan urusan, dan memasrahkan semua pada Sang Pemilik Hidup. Tapi, ketika diresapi, ada esensi yang sama-sama menohok…
BAGAIMANAPUN SIBUKNYA, KITA MASIH PUNYA KEWAJIBAN UNTUK MELAKUKAN SESUATU BAGI ORANG LAIN. DISERTAI DENGAN KEPASRAHAN ATAS JALANNYA HIDUP PADA SANG PELINDUNG KITA.
BAGAIMANA KITA MENGAMALKAN SEBUAH PERKATAAN ROSULULLOH, ‘ORANG YANG PALING BERUNTUNG ADALAH ORANG YANG BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN.’
Jadi, dibalik segala kesibukan yang telah kita pilih, sebenarnya ada orang-orang yang memandang kita. Bukan karena bangga, tapi karena kasihan. Seperti katak dalam tempurung, terbelenggu dengan kesibukan yang tak kunjung habis. Dan perlahan, orang-orang itu lambat laun akan meninggalkan kita, orang yang tak ada gunanya bagi mereka. Oh…
Rabu, 10 Juni 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar